Kamis, 06 November 2008

Robert Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad) Penipu??


Hari ini saya membaca Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki. Sebenarnya udah lama saya liat buku itu waktu temen saya pinjem di perpus, tapi baru hari ini sempet pinjem dan baca. Saat membaca openingnya saya sangat terkesan. Apalagi kalo bukan ulasan singkat yang ditulis oleh Sharon L. Letcher, rekan yang membantu penulisan RDPD (Rich Dad Poor Dad). Karena saya ingin tahu lebih dalam, saya pun browsing di internet dan saya terkejut saat mengetahui bahwa banyak yang berpendapat kalo Kiyosaki adalah seorang penipu?? Di blognya Mas Priyadi saya temukan banyak perdebatan tentang keabsahan teknik-teknik kaya ala Kiyosaki. Benarkah Kiyosaki seorang penipu?? :t :t :t

Kalo menurut analisa saya :t :t :t (analisa lagi, analisa lagi..), isi dari RDPD memang sedikit kontroversial. Di buku itu terkesan kalo Kiyosaki ingin agar kita menganggap sekolah sebagai sampingan saja (istilah umunya "sebagai syarat" atau ada juga yang nyebut "biar dapat ijazah"). Di situ dia menulis bahwa ilmu-ilmu yang kita pelajari di sekolah tidak mengajarkan kita menjadi kaya. Itu memang benar, tapi apakah dengan begitu kita harus mengesampingkan begitu aja pelajaran sekolah? Saya rasa tidak!! Meskipun dia juga mengungkapkan bahwa kekayaan bukanlah penentu kebahagiaan, tapi justru itulah bumerang bagi teorinya sendiri. Kita tidak bisa begitu saja menuruti ego kita guna meraih kebahagiaan kita. Memang bisa saja kita nantinya akan bahagia. Tapi bagaimana dengan orang tua kita? Mereka tentu saja ingin anaknya bisa bersekolah dengan baik dan memperoleh banyak bekal ilmu sebagai bekal mengarungi hidup ini. Kita perlu ingat bahwa kita hidup bukan hanya untuk uang!! Bisakah kita bayangkan bagaimana jadinya orang tua kita kalo kita malas-malasan sekolah gara-gara membaca teori Kiyosaki itu?? Mereka pasti akan sangat terpukul dan bingung. Jadi, kita harus mencari ilmu sebanyak-banyaknya selain ilmu tentang mencari uang. Dan Kiyosaki menyepelekan hal itu!!

Jujur, saya sebenarnya memang bukan tipe anak yang suka belajar materi sekolah. Jadi awalnya saya menganggap bakal menyukai buku ini. Namun sayangnya, isi dari buku ini sangat tidak sesuai dengan yang saya harapkan!! Baru membaca setengahnya saja saya sudah malas melanjutkan. Apalagi setelah saya menemukan artikel yang mengungkapkan dugaan bahwa tokoh Rich Dad dalam buku itu adalah sosok fiktif :t :t . Ini membuat saya semakin tidak bergairah dan ingin secepatnya mengembalikan buku itu besok pagi. :v :v

Rich Dad Poor Dad memang seharusnya diberikan bagi para senior, bukan pelajar seperti saya. Karena saya takut banyak siswa yang menganggap remeh belajar dengan alasan mencari uang itu mudah!! Padahal semuanya harus diraih dengan kerja!! Gak cuma tidur-tiduran, ngopi, ngelonin istri, dan sebagainya. Apalagi jika seorang siswa membaca buku itu dan langsung terhanyut tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Saya khawatir buku itu akan menimbulkan ajaran "Malas Belajar" di kalangan siswa.

Ini memang zaman demokrasi. Jadi artikel ini hanyalah sebuah pendapat dari seorang newbie yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Saya mau tidur dulu biar penyakit musim penghujan ini lekas pulih. Bagi yang ingin berpendapat juga, silakan berdiskusi melalui comment box di bawah ini. Terima kasih.. :y :y

11 komentar:

Rystiono mengatakan...

Mungkin apa yang kamu utarakan benar karena kamu masih SMA, belum masuk ke dunia "nyata". Dunia nyata yang aku maksud adalah "Enterpreneur".

Tapi tahu ga dik, kalo yang udah terjun di dunia enterpreneur, kamu bakal tau kalo yang kamu pelajari selama 12 tahun di sekolah, hanya sedikit saja yang bisa kamu terapkan...

Kalo aku boleh bilang, yang berjasa dalam bisnisku sekarang adalah guru TK (ngajarin baca) dan SD (ngajarin berhitung). Selain itu hanya tambahan aja. Nggak semua kepake. :) Yang dominan adalah SQ dan EQ ... :)

seno mengatakan...

Ya, saya kira kita harus berpikir dewasa. Salut atas pemikiran Dio yang bisa membaca buku dan mengambil sisi positif dari buku tersebut. Membaca buku itu sangat penting (jenis apa saja), namun yang lebih penting adalah kedewasaan kita dalam menyikapi dan mengambil sisi positif dari buku tersebut. Menurut saya IQ, EQ dan SQ adalah tiga kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cerdas tapi tak berbudi hanya akan menggunakan kecerdasannya untuk kejahatan Tapi berbudi tapitak cerdas hanya akan menjadi bulan-bulanan orang yang cerdas. Salam.

Herveen mengatakan...

Allo dio..numpang coment aja. Memang benar apa yg kita dapat di sekolah sangat sedikit bisa kita terapkan di dunia kerja. Pola pikir,intelegensia, pengalaman dan kemauan adalah faktor penting untuk sukses. Tapi tetap saja sekolah sebagai fondasinya merupakan elemen yg penting

ilham mengatakan...

ok memang si kyo najarin tehnik dan mindset aja ,selebihnya kita yang harus berusaha.dulu saya sangat suka bukunya hampir tiap judul aku baca tapi tiap buku hanya membahas hal yang sama dan diulang ulang,(lama lama bosen juga)

bocah mengatakan...

tinggal cara pandangnya saja sih yo. kita ambil sisi positifnya saja :) . Bagiku si robert seorang motivator meskipun ada kelemahannya :D . memang no body perfect kan :D

Anonim mengatakan...

rekan sekalian...,

semua informasi/ilmu/pengetahuan yang kita dapat, menurut saya, adalah baik.
HANYA masalahnya, ada manfaatnya buat kita atau tidak....?

SAYA adalah implementor Kiat2 KAYA ala KIYOSAKI, sehingga dalam 3 tahun saya bisa mencapai Financial Freedom (3 tahun lho, bukan KAYA mendadak).

JADI, buat saya, buku2 beliau sangat bermanfaat.

Yuk KAYA rame2, yuk....!!!

salam,
budi_rachmat@yahoo.com
www.WealthStrategyAlaKIYOSAKI.com

yoni mengatakan...

AKu tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat kamu. AKu sendiri juga masih sekolah.. Dan aku merasakan ajaran2 kiyosaki memeang bermanfaat bagi yang benar-benar menyadarinya..

aku setuju dengan pendapat mas Rystono dan anonim diatas..

Adrie mengatakan...

maaf, bukan membela kiyosaki, cuman menurut saya penulis belum membaca sebagian besar buku kiyosaki, padahal salah satu inti poin yang dimaksud kiyosaki bukan berarti sekolah tidak penting. Cuman visi sekolah era sekarang harus berubah dari era agraria, industri ke jaman era informasi. Jadi sekolah tetap penting hanya perlu re-orientasi. Menurut saya sebagai pembisnis buku kiyosaki lebih riil implementasinya dibandingkan buku2 bisnis lain yang hanya kebanyakan teoritis.

Salam

Adrie
YM : Adrie_khan

Anonim mengatakan...

Ikut comment juga ya,,,,
saya juga baca bukunya yg RDPD ama Chashflow Quadran :)
menurut pendapat "saya" penuturan di buku itu benar karna kita selama ini dibentuk hanya sebagai pekerja bukan penyedia, kata-kata disitu juga jelas "Dunia telah banyak berubah tapi sistem pendidikan tidak berubah", dalam hal ini tidak ada pendapat yang benar atau salah semua berhak berpendapat, saya pribadi juga merasa bahwa yang kita dapatkan di universitas itu kurang "bukan pendidikan tidak penting" tapi kenyataan di lapangan berbeda dengan yang kita butuhkan di lapangan :), kalau menelah scara mentah dari buku itu untuk berbisnis real estate di "indonesia" mngkn ga mudah buat kita2, tp setidak2nya kita bisa belajar dari strategi yang dipaparkan disitu :),,, salam

Anonim mengatakan...

Secara umum yang diajarkan oleh Kiyosaki adalah anjuran untuk mendapatkan passive income yang dapat diartikan sebagai kesempatan berinvetasi, seperti bisnis kecil dan juga real estate, dengan tujuan utamanya adalah mampu untuk menjadi seorang investor. Terkait dengan hal ini, pendidikan kita di sekolah memang cenderung tidak ada korelasinya dai dunia pekerjaan, oleh karena itu Kiyosaki mengajarkan seseorang untuk berinvestasi dalam menunjang kebebasan finansial

Gambaru mengatakan...

Sekolah sama sekali ga penting!

Poskan Komentar

Template by : Kendhin x-template.blogspot.com